Tak Tersorot, Perempuan Ini Ceritakan Ngerinya Tsunami di Ujung Kulon, Banyak Mayat Berserakan

Pantai4d

Tak Tersorot, Perempuan Ini Ceritakan Ngerinya Tsunami di Ujung Kulon, Banyak Mayat Berserakan
Tak Tersorot, Perempuan Ini Ceritakan Ngerinya Tsunami di Ujung Kulon, Banyak Mayat Berserakan

Tak Tersorot, Perempuan Ini Ceritakan Ngerinya Tsunami di Ujung Kulon, Banyak Mayat Berserakan

Tak Tersorot, Perempuan Ini Ceritakan Ngerinya Tsunami di Ujung Kulon, Banyak Mayat Berserakan

Sabung Ayam Online – Tidak banyak yang tahu kalau daerah Ujung Kulon, Banten juga terdampak tsunami akibat erupsi Anak Gunung Krakatau.

Masyarakat hanya tahu kalau tsunami terjadi di daerah pantai Tanjung Lesung pada Sabtu (22/12/2018).

Seorang wanita bernama Safrina Delinna menggunakan media sosial Facebook untuk menceritakan pengalamannya terkait tsunami Ujung Kulon.

Ia membagikan sejumlah tulisan layar tangkap yang isinya menceritakan kengerian tsunami tersebut.

Safrina menjelaskan kalau kala itu ia bersama anggota keluarga yang totalnya berjumlah 16 orang berniat untuk berlibur di ‘Honje Ecco Lodge’ di daerah Ujung Kulon pada tanggal 22-24 Desember.

Mereka terdiri dari 13 orang dewasa, 2 anak-anak dan satu orang remaja.

Menurut unggahan Safrina, mereka berencana berangkat bersamaan dengan memakai empat buah mobil.

Namun, karena ada beberapa keperluan, akhirnya mereka berangkat terpisah.

Tiga mobil anggota keluarga besarnya yang lain berangkat di pagi hari pukul 6, sedangkan ia bersama suami dan anaknya berangkat di sore hari.

Padahal, Safrina menuliskan butuh waktu 5,5 jam untuk sampai ke Honje.

Saling berkabar melalui grup Whatsapp, Safrina memuji keindahan pantai tempat bermain keluarga besarnya.

Ingin segera sampai, Safrina memperkirakan kalau mobil yang ditumpanginya akan tiba di lokasi tujuan pukul 10 malam.

Namun, satu jam sebelum sampai di lokasi liburan, mobil mereka harus berhenti karena sang anak meminta untuk makan.

Berhentilah mereka di sebuah minimarket untuk istirahat dan makan.

Akhirnya, mereka menghabiskan waktu 45 menit di minimarket sebelum kembali melakukan perjalanan.

Singkatnya, saat dekat dengan tempat tujuan, Safrina melihat ada kejanggalan di jalanan yang mereka lewati.

“Di perjalanan kami lihat kok banyak warga naik motor ngebut, pakaiannya seadanya seperti keburu-buru,” tulisnya.

Beberapa saat kemudian, ia menerima telepon dari saudaranya yang mengatakan kalau telah terjadi tsunami.

“Di sini tsunami jangan ke sini, jangandeket-deket pantai,” begitu bunyi telepon yang langsung terputus.

Ia pun mendapatkan telepon yang kedua dari sang kakak, “Di sini tsunami, kalian cari tempat tinggi ke arah gunung, selamatkan diri kalian, jangan pikirin kami di sini.”

Safrina yang mendapat kabar buruk tersebut langsung menangis histeris dan kebingungan mencari tempat tinggi.

Mereka akhirnya berhenti di tempat yang dinilai cukup tinggi, berjejer dengan rumah warga.

Namun, ketika ditanya apakah benar terjadi tsunami, warga setempat justru mengatakan kabar tersebut adalah hoax.

Sesaat setelahnya, ia melihat kerumunan ramai yang memperlihatkan motor ngebut, ibu-ibu berdaster menggendong anak, dan banyak mobil pick up yang ditumpangi banyak orang.

“Tsunami tsunami!” teriak mereka.

Safrina pun gemetar membayangkan 13 orang anggota keluarganya terhempas ombak tsunami dan tersapu air laut.

Ia pun kembali mendapatkan telepon yang lagi-lagi menyuruhnya agar menyelamatkan diri.

Yang membuat hatinya semakin hancur adalah latar suara yang memperdengarkan suara gemuruh dan tangisan bercampur doa.

Jam berlalu dan akhrinya Safrina mendapatkan kabar kalau keluarganya sudah dievakuasi tapi semua harta benda termasuk mobil sudah hanyut terbawa ombak.

Suaminya, Adip bersama warga setempat memberanikan diri membawa mobil besar untuk menjemput anggota keluarga mereka di Honje.

Gue mau ke Honje sama polisi dilarang karena jalan ke Honje pinggir laut, nanti takut air pasang lagi,” kata Adip kembali dengan tangan kosong.

Dengan melihat keadaan di mana listrik mati, orang berteriak dan mayat bertebaran, warga yang menawarkan bantuan untuk menjemput ikut minta maaf.

Tidak membawa hasil, akhirnya Safrina dan suami memutuskan untuk kembali ke Jakarta dengan mengambil rute jalan yang aman.

Meski demikian, ternyata mereka harus tetap melewati jalanan pinggir pantai yang sudah dipenuhi oleh mayat.

Untungnya setelah beberapa jam berlalu, ia mendapatkan kabar kalau seluruh anggota keluarganya selamat dan siap kembali ke Jakarta.

Mereka dijemput dan tiba di Jakarta tanpa membawa apapun kecuali nyawa dan barang yang menempel di badan.

Unggahan Safrina Delinna ini menjadi viral dan sudah dibagikan oleh ribuan orang.

Berikut potret lokasi yang diunggah oleh akun Facebook Safrina Delinna.