Mengingat Kembali Derby County

Pantai4d

Mengingat Kembali Derby County

Mengingat Kembali Derby County

SABUNG AYAM

Putaran ketiga Carabao Cup, 25 September 2018, Manchester United secara mengejutkan ditumbangkan oleh tamunya, Derby County. Bermain imbang 2-2 di waktu normal, The Red Devils tak kuasa menahan laju tamunya dan kalah adu penalti 7-8.

Berselang sebulan kemudian, Chelsea nyaris mengalami nasib yang sama. Derby yang bertandang ke London di babak 16 besar ajang yang sama nyaris mempermalukan sang tuan rumah. Meski kalah 2-3, namun Derby meraih simpati publik Stamford Bridge berkat permain spartan dan pantang menyerah yang mereka miliki.

Derby County. Nama ini tentu asing bagi penggemar sepakbola saat ini. Bukan hal yang aneh karena Derby County adalah tim semenjana yang lebih banyak berkutat di Championship Division. Sejak terakhir kali tampil di Premier League musim 2007/2008, Derby belum lagi mencicipi kompetisi tertinggi negeri Ratu Elizabeth.

Di Championship Division pun, performa Derby selama sedekade ini cenderung tidak stabil. Hal itu terbukti dengan sulitnya mereka meraih posisi untuk promosi. Sejak terdegradasi di akhir musim 2007/2008, Derby bahkan baru dua kali finish di posisi play-off, posisi ketiga di musim 2013/2014 dan posisi kelima di musim 2015/2016 dengan hasil akhir selalu gagal promosi.

Maka wajar sebenarnya jika banyak kids jaman now yang tidak tahu dan peduli dengan Derby karena memang kiprah mereka biasa-biasa saja selama ini. Barangkali karena kedatangan Frank Lampard sebagai pelatih di awal musim dan performa ketika menyingkirkan MU, serta merepotkan Chelsea di Carabao Cup-lah, yang membuat nama Derby sempat bergaung di awal musim ini.

Secara pribadi, mengingat Derby, ingatan saya melayang ke masa sepuluh tahun yang lalu. Ya, musim terakhir Derby County bermain di Premier League, 2007/2008. Kali terakhir Derby mentas di Premier League justru diwarnai rekor yang memalukan sekaligus memilukan.

Berbagai rekor negatif tersebut di antaranya kemenangan tersedikit dalam satu musim (1 kali menang), rekor tanpa kemenangan terpanjang (32 laga), tidak pernah meraih kemenangan tandang, kebobolan terbanyak dalam semusim (89 gol), dan berbagai rekor buruk lainnya yang membuat Derby digadang-gadang sebagai kesebelasan terburuk sepanjang masa Premier League.

Meski demikian, Derby tidaklah seburuk itu jika berbicara kiprah sepanjang sejarah Liga Inggris (tidak hanya di era Premier League). Tim ini juga pernah menjadi tim yang ditakuti seantero Inggris. Derby juga pernah mengejutkan di Piala Champions Eropa. Tidak percaya? Mari kita lihat sejarahnya.

Kiprah Derby di Inggris dan Eropa

Brian Clough mungkin lebih dikenal karena kiprahnya mengangkat klub kecil Nottingham Forest dari divisi dua liga Inggris menjadi jawara Eropa di penghujung era 1970-an dan awal 1980-an. Namun jauh sebelum sukses bersama Nottingham Forest, Clough lebih dahulu sukses mengangkat Derby County dari Divisi Dua untuk promosi ke Divisi Satu pada musim 1968/1969.

Tidak sekadar promosi, Clough yang kondang dengan gaya angkuhnya bersama sang asisten, Peter Taylor, juga sukses menghadirkan trofi Liga Inggris musim 1971/1972 ke tanah Derbyshire. Meskipun kemudian ditinggal Clough dan Taylor semusim berikutnya, Derby tetap mampu meraih trofi Liga Inggris kedua mereka tahun 1974/1975.

Di level Eropa, Derby juga pernah dua kali berpartisipasi di Piala Champions. Prestasi tertinggi terjadi di debut Eropa mereka (musim 1972/1973) dengan menembus semifinal sebelum dihentikan oleh Juventus. Di kesempatan kedua tampil di Piala Champions tahun 1975/1976, Derby disingkirkan oleh Real Madrid di babak 16 besar. Sempat unggul 4-1 di leg pertama, The Rams dipermak Los Blancos dengan skor telak 1-5.

Melihat perjalanan Derby di Inggris dan Eropa, sebetulnya Derby adalah tim yang sarat sejarah. Mereka adalah salah satu tim kuat di tanah Britania di era 1970-an. Derby bukan cuma penggembira di Liga Inggris. Kiprah mereka tidak hanya sebatas merusak dominasi Liverpool dan Leeds United yang memang sangat dominan di era tersebut, namun juga mampu menembus persaingan di Eropa. Hasil ini terbukti dengan pencapaian sebagai semifinalis pada 1972/1973.

Selain di Piala Champions, Derby juga pernah berpartisipasi di Piala UEFA yang kini bernama Europa League sebanyak dua kali. Tidak seperti di Piala Champions, langkah Derby tercatat paling jauh sampai putaran ketiga di musim debut Piala UEFA mereka (1974/1975), ketika disingkirkan Velez Mostar, tim asal Bosnia dan Herzegovina dengan agregat 4-5. Sementara pada 1976/1977, langkah mereka terhenti di putaran kedua di tangan AEK Athens dengan agregat 2-5.

Sayangnya mereka tidak mampu mempertahankan penampilan mereka pada dekade berikutnya. Sering turun divisi, tim ini lebih akrab dengan status tim yoyo. Apalagi sejak terakhir kali manggung di Premier League musim 2007/2008, Derby menjadi tim “pemimpi” yang setiap musimnya selalu merindukan promosi ke Premier League.

***

Musim ini bisa jadi kesempatan terbaik bagi The Rams. Dilatih oleh Frank Lampard, legenda sekaligus top skorer sepanjang masa Chelsea, Derby berada di jalur yang benar untuk promosi ke Premier League. Meski minim pengalaman sebagai pelatih, karisma dan prestasi Superfrank semasa jadi pemain, sukses menjadi inspirasi bagi skuat Derby untuk terus mewujudkan mimpi mereka.

Memang Championship Division bahkan belum memasuki setengah musim. Namun, “Lampard Genk” menjadi salah satu tim yang diunggulkan untuk promosi musim ini. Penampilan impresif mereka sejauh ini berbuah peringkat keempat klasemen sementara. Saat artikel ini ditulis, mereka meraih 11 kemenangan, lima kali imbang serta enam kali kalah. Derby hanya berjarak tujuh poin dari pemuncak sementara Championship Division, Leeds United, dan enam poin dari Norwich City yang berada di posisi kedua, batas zona lolos otomatis Liga Primer.

Yang menarik, Frank Lampard yang kini menukangi Derby pernah “berdosa” dalam menghancurkan Derby musim 2007/2008. Frank Lampard mencetak rekor sebagai gelandang pertama Premier League yang mencetak empat gol dalam satu pertandingan. Ia melakukannya ketika masih memperkuat Chelsea menghadapi Derby pada 12 Maret 2008 dengan kemenangan telak 6-1.

Entah Lampard masih ingat itu atau tidak, yang jelas Lampard tahu apa yang harus dilakukannya. Harapan publik Pride Park melihat tim kebanggaannya segera kembali ke Premier League harus segera diwujudkan. Jika kelak Derby memang kembali ke Premier League, satu hal yang pasti, selain mengangkat derajat Derby, Lampard juga mengangkat levelnya sendiri menjadi calon pelatih top.