Mario Mandzukic, Jimat Keberuntungan Juventus yang Kian Tajam

Pantai4d

Mario Mandzukic, Jimat Keberuntungan Juventus yang Kian Tajam

Mario Mandzukic, Jimat Keberuntungan Juventus yang Kian Tajam

SABUNG AYAM

Ketika Cristiano Ronaldo pertama kali datang ke Juventus, nama Paulo Dybala dikedepankan untuk menjadi tandem utama sang megabintang. Wajar saja, memang, mengingat Dybala sendiri merupakan bintang terbesar ‘Si Nyonya Tua’ sebelum Ronaldo tiba. Namun, yang belakangan mencuri perhatian bukanlah Dybala, melainkan Mario Mandzukic.

Dybala dan Mandzukic datang di saat yang bersamaan pada musim 2015/16. Mereka pun langsung menjadi rekan duet sehati pada musim tersebut. Mandzukic menjadi ujung tombak, Dybala menjadi seconda punta. Dari kolaborasi mereka berdua lahirlah 32 gol untuk Juventus.

Bagi Juventus yang sebelumnya kesulitan mendatangkan striker berkualitas, keberadaan Mandzukic dan Dybala adalah angin segar. Dalam diri dua pemain inilah lini serang Juventus menemukan tumpuan. Namun, kedatangan Gonzalo Higuain pada musim 2016/17 mengubah segalanya, terutama bagi Mandzukic.

Dengan datangnya Higuain, Juventus pun akhirnya mengubah cara bermain. Jika sebelumnya mereka hampir selalu turun dengan pakem dasar 3-5-2 dengan dua striker sekaligus, ketika Higuain datang Juventus mulai bermain dengan satu ujung tombak. Alhasil, Dybala pun tergusur ke belakang, sementara Mandzukic ke sayap kiri.

Dybala yang masih beroperasi di area sentral lebih diuntungkan. Dalam dua musim, pada 2016/17 dan 2017/18, Dybala sanggup mencetak 38 gol di Serie A dan Liga Champions. Mandzukic, sementara itu, justru sedikit tenggelam. Catatan golnya di Serie A dan Liga Champions pada dua musim tersebut cuma menyentuh angka 19 atau separuh dari milik Dybala.

Dengan posisi baru sebagai sayap kiri, Mandzukic pun dikenal karena alasan yang ‘salah’. Alih-alih karena produktivitasnya, striker Kroasia itu diasosiasikan orang dengan semangat juang atau grinta serta kemampuan defensifnya. Dari sana, muncul tanda-tanda bahwa Mandzukic yang dulu begitu ditakuti saat bermain untuk Atletico Madrid, Wolfsburg, dan Bayern Muenchen telah tiada.

Musim ini pun Mandzukic diprediksi bakal semakin tenggelam. Apalagi, Juventus memiliki Douglas Costa yang disiapkan jadi pendamping Ronaldo dan Dybala di lini depan. Ini terlihat pada pertandingan pembuka musim ketika Juventus bermain melawan Chievo. Di laga tersebut, Mandzukic harus memulai laga dari bangku cadangan.

Padahal, Mandzukic memasuki musim 2018/19 dengan kredensial menterang. Di Piala Dunia 2018 dia tampil impresif untuk mengantarkan negaranya ke partai puncak. Dalam turnamen yang digelar di Rusia tersebut Mandzukic mencetak 3 gol dari 6 penampilan, termasuk sebiji gol di laga final yang dimenangi Prancis dengan skor 4-2.

Namun, ya, itu tadi. Nyatanya, Mandzukic harus bersabar untuk bisa menunjukkan kelasnya bersama Juventus. Memang, waktu yang dibutuhkan Mandzukic untuk membuktikan diri kepada Max Allegri tidak lama. Ketika masuk sebagai pengganti di laga melawan Chievo, Mandzukic dan Federico Bernardeschi terbukti mampu mengubah permainan Juventus. Mandzukic pun akhirnya dipercaya kembali menjadi starter pada laga kedua melawan Lazio.

Sejak tampil menghadapi Lazio, Mandzukic tak terhentikan. Apalagi, Douglas Costa kemudian mendapatkan larangan bermain usai meludahi pemain Sassuolo. Jadilah kemudian Mandzukic merebut kembali tempatnya di starting XI Bianconeri. Baik di Serie A maupun Liga Champions, Mandzukic jadi opsi utama Allegri.

Terhitung sejak turun melawan Lazio, Mandzukic sudah bermain dalam 14 laga. Dari sana, 8 gol telah berhasil dia catatkan. Belum lagi dia juga mampu menorehkan 2 assist. Artinya, Mandzukic bertanggung jawab atas 10 gol yang sudah dicetak La Vecchia Signora dari 14 penampilan tadi. Khusus di Serie A, ada 7 gol yang sukses dia lesakkan dan itu membuatnya berada di trek yang benar untuk menjalani musim terproduktifnya bersama Juventus.

Sampai sekarang, musim 2015/16 adalah musim terbaik Mandzukic untuk urusan mencetak gol. Kala itu, ada 10 gol yang dicetaknya di Serie A dan 3 gol di Liga Champions. Sekarang, Mandzukic sudah punya 8 gol dan itu tak bisa dilepaskan dari bagaimana dirinya lebih bisa berkolaborasi dengan Ronaldo.

Sebagai catatan, Dybala musim ini sudah mencetak 6 gol; 2 di Serie A dan 4 di Liga Champions. Namun, 5 dari 6 gol itu dicetak Dybala ketika Ronaldo dan Mandzukic tidak bermain. Satu-satunya gol yang dicetak Dybala ketika ada Ronaldo dan/atau Mandzukic di lapangan adalah saat Juventus mengalahkan Manchester United 1-0. Saat itu pun yang ikut bermain hanya Ronaldo karena Mandzukic tengah mengalami cedera.

Kolaborasi Ronaldo-Mandzukic itu bermula dari laga melawan Lazio. Ketika itu, Ronaldo yang hendak menendang bola justru secara tidak sengaja memberi assist untuk Mandzukic. Kolaborasi itu kembali tampak saat Juventus menghajar Napoli 3-1. Lalu, hal itu terlihat lagi saat Juventus menang 1-0 atas Valencia di Liga Champions. Gol Mandzukic di situ lahir berkat umpan matang Ronaldo.

Matangnya kolaborasi Ronaldo-Mandzukic ini tak bisa dilepaskan dari fasihnya kedua pemain itu memainkan dua peran sekaligus. Mereka berdua sama-sama bisa bermain sebagai penyerang tengah maupun sayap kiri. Hasilnya, permutasi posisi antara keduanya pun begitu halus. Maka, tak mengherankan juga ketika satu dari dua assist Mandzukic musim ini dia berikan untuk Ronaldo, tepatnya di laga melawan Udinese.

Perpindahan posisi yang mulus antara Ronaldo dan Mandzukic ini pada akhirnya memang memudahkan keduanya. Mandzukic sendiri tidak selalu menerima umpan dari Ronaldo untuk mencetak gol. Namun, tetap saja, seringnya Mandzukic berada di jantung pertahanan lawan membuat dirinya jadi lebih kerap menerima kiriman dari pemain lain.

Pada laga melawan Milan dan Inter, misalnya. Pada dua pertandingan itu Mandzukic masing-masing mencetak satu gol dengan memanfaatkan umpan dari bek kiri Juventus. Alex Sandro saat melawan Milan, Joao Cancelo saat meladeni Inter. Hal ini tidak bisa dilakukan Mandzukic ketika ada Higuain karena Pipita sendiri tidak bisa bermain dari sayap kiri.

Dengan demikian, Mandzukic pun kini semakin kerap saja menjadi jimat keberuntungan Juventus. Selama bermain untuk ‘Sang Kekasih Italia’, Mandzukic sudah mencetak gol di 27 pertandingan liga, termasuk kala mengalahkan Inter, Sabtu (8/12) dini hari WIB lalu.

Di 27 laga itu, Juventus sama sekali tidak pernah menelan kekalahan. Dengan makin aktifnya Mandzukic mencetak gol, bisa jadi rentetan tak terkalahkan Juventus di Serie A bakal semakin panjang saja. Apalagi, Mandzukic selalu datang di saat yang tepat. Juventus sudah menjalani empat grande partita musim ini dan di semua laga itu Mandzukic mencetak gol untuk memenangkan timnya.

Kini, usia Mandzukic sudah tak muda lagi; sudah 32 tahun. Seharusnya, kontrak jebolan akademi Željezničar Slavonski Brod itu habis pada 2020 mendatang. Namun, Juventus dikabarkan sudah bakal memperpanjang kontrak si pemain.

Syaratnya memang tidak mudah: Mandzukic harus mau menerima pemotongan gaji karena faktor usia tadi. Namun, terlepas dari syarat yang tidak menyenangkan itu, rencana perpanjangan kontrak sebenarnya bisa dilihat sebagai sebuah cara dari Juventus untuk menghormati jimat keberuntungannya. Atas segala yang telah dia berikan, perpanjangan kontrak adalah sesuatu yang layak bagi seorang Mandzukic.