Derbi Barceloni dan Ketimpangan yang (Mungkin) Tak Relevan

Pantai4d

Derbi Barceloni dan Ketimpangan yang (Mungkin) Tak Relevan

Derbi Barceloni dan Ketimpangan yang (Mungkin) Tak Relevan

SABUNG AYAM

Mudah saja untuk menyebut Derbi Barceloni sebagai derbi yang tidak terasa sebagai sebuah derbi. Masalahnya jelas: Dalam derbi tersebut ada satu tim yang terlalu dominan. Sejak bertemu pertama kali di pada 1929, FC Barcelona dan RCD Espanyol sudah menjalani 194 pertandingan. Dari sana, 114 laga di antaranya dimenangi oleh Barcelona.

Pada dasarnya, saingan Barcelona memang bukan Espanyol. Sama halnya dengan bagaimana Torino tidak bisa menjadi pesaing Juventus di Turin. Sebagai salah satu raksasa Spanyol, Barcelona selama ini lebih kerap perseteruan hebat dengan Real Madrid, Athletic Club, atau Atletico Madrid dan Valencia. Intinya, bukan Espanyol.

Maka dari itu, Derbi Barceloni pun jadi dengan mudah dikesampingkan karena gengsinya memang tidak besar di luar Catalunya. Akan tetapi, dari derbi ini pernah lahir dua momen besar yang membuat masing-masing klub begitu menderita. Dua momen inilah yang sampai sekarang masih ramai diperbincangkan bilamana Barcelona dan Espanyol bentrok.

Momen pertama terjadi pada 1949. Pada jornada terakhir musim tersebut Barcelona sukses memastikan gelar juara sekaligus menggelar pesta di kandang Espanyol, Camp de les Corts. Dua gol dari Cesar Rodriguez membawa Barcelona menang 2-1 pada pertandingan tersebut. Kemenangan itu membuat Barcelona secara otomatis tak lagi bisa dikejar oleh Valencia yang menguntit di urutan kedua.

Butuh waktu 55 tahun bagi Espanyol untuk membalas kejadian tersebut. Pada pekan ke-37 La Liga musim 2006/07, Barcelona harus menjamu Espanyol di Camp Nou. Musim itu merupakan musim yang menarik di La Liga di mana Real Madrid dan Barcelona memiliki poin yang sama sampai pada pekan tersebut. Kemenangan pun jadi harga mati, khususnya bagi Barcelona yang kalah head-to-head dari Real, untuk mendekatkan diri pada gelar juara.

Namun, harapan tinggal harapan. Ceritanya, pada menit ke-89 di Zaragoza, Ruud van Nistelrooy berhasil mencetak gol untuk menyamakan skor menjadi 2-2. Semenit berselang, Raul Tamudo yang sebelumnya sudah mencetak gol kembali mencatatkan nama di papan skor. Barcelona yang kesulitan mencerna realitas harus puas dengan hasil imbang 2-2 juga.

Jika Barcelona menang dan Real Madrid bermain imbang, peluang Barcelona untuk juara terbuka meskipun penentuan gelar juara harus digelar di pekan terakhir. Barcelona menghadapi Gimnastic de Tarragona pada pekan pemungkas, Real Madrid bertandang ke Son Moix untuk melawan Real Mallorca.

Di akhir cerita, Real dan Barca sama-sama meraih kemenangan untuk meraih poin 76. Namun, berkat keunggulan head-to-head tadi Real akhirnya berhak untuk mengangkat trofi juara. Itulah mengapa, gol Raul Tamudo tadi begitu krusial dalam sejarah Barcelona. Meminjam istilah Maracanazo, gol Tamudo tadi kemudian disebut sebagai Tamudazo, alias Tragedi Tamudo.

Sebenarnya, selain dua momen ini, ada beberapa hal lain yang mewarnai Derbi Barceloni. Hawa permusuhan, misalnya, tetap kental terasa meskipun Espanyol adalah liliput jika dibandingkan dengan Barcelona. Salah satu bentuk permusuhan ini adalah enam kartu merah pada derbi edisi Desember 2003.

Tiga pemain Barcelona (Rafael Márquez, Ricardo Quaresma, dan Philip Cocu) dan tiga pemain Espanyol (Antonio Soldevilla, Alberto Lopo, dan Iván de la Peña) ketika itu harus masuk kamar ganti lebih cepat karena diusir wasit.

Namun, derbi antara Barcelona dan Espanyol tak cuma berkisar pada permusuhan dan air mata saja. Di antara dua klub tersebut terdapat sebuah persahabatan yang disimbolkan dengan sosok Andres Iniesta. Iniesta sendiri merupakan sahabat dari mantan kapten Espanyol yang telah tiada, Daniel Jarque.

Di tiap kesempatan yang dia miliki, Iniesta selalu memberikan penghormatan kepada Jarque, termasuk ketika dirinya mencetak gol kemenangan Spanyol di final Piala Dunia 2010. Seusai mencetak gol, Iniesta melepas jersinya seraya menunjukkan kaus dalaman putih bertuliskan tribut untuk Jarque. Inilah yang membuat Iniesta menjadi sosok yang dicintai oleh para suporter Espanyol.

Dalam Derbi Barceloni edisi pertama musim 2018/19 ini, ada suasana lain yang menyelimuti. Musim ini Espanyol tidak semedioker sebelum-sebelumnya. Di bawah asuhan Rubi yang musim lalu mengantarkan Girona promosi ke Primera Division, Periquitos sejauh ini sukses menjadi salah satu penghuni papan atas La Liga.

Dengan koleksi 21 poin, Espanyol cuma tertinggal tujuh angka dari Barcelona di puncak klasemen. Kemenangan atas Barcelona berpotensi membawa Espanyol merangsek ke zona Liga Champions. Itulah mengapa, Derbi Barceloni musim ini bakal terasa lebih elite ketimbang beberapa tahun terakhir.

Rubi sendiri merupakan sosok pelatih yang disukai oleh Pep Guardiola. Ketika Guardiola menerima tawaran Bayern Muenchen, dia pernah mengajak Rubi untuk menjadi bagian dari tim kepelatihannya. Akan tetapi, Rubi menolak dan lebih memilih untuk mencari jalannya sendiri.

Kini, di Espanyol dia tengah menjalani masa-masa terbaik dalam kariernya. Di bawah asuhan Rubi, pemain-pemain seperti Marc Roca mampu menjadi buah bibir di jagat persepakbolaan Spanyol lewat kemampuannya merebut bola dan menginisiasi serangan balik. Gaya bermain inilah yang kudu diwaspadai Barcelona. Apalagi, Los Cules saat ini punya pertahanan yang lebih buruk (kebobolan 19 kali) dibanding Espanyol (16).

***

Derbi Barceloni boleh jadi bukan derbi terbesar di dunia. Bahkan, di Spanyol sendiri pun ia bukan yang terakbar. Namun, sebuah derbi biar bagaimana juga pasti akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Dengan semakin berkembangnya Espanyol, pertandingan yang akan digelar pada Minggu (9/12) dini hari pukul 02:45 WIB di Camp Nou tersebut dijamin akan berlangsung lebih seru ketimbang biasanya.