Hafiz/Gloria Kenapa Sia-siakan Kesempatan Juara yang Sudah di Depan Mata?

Pantai4d

Hafiz/Gloria Kenapa Sia-siakan Kesempatan Juara yang Sudah di Depan Mata?

Hafiz/Gloria Kenapa Sia-siakan Kesempatan Juara yang Sudah di Depan Mata?

Hafiz/Gloria Kenapa Sia-siakan Kesempatan Juara yang Sudah di Depan Mata?

http://www.neneksakti.cc/togel-singapura/ Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menyayangkan kegagalan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja meraih gelar Thailand Masters 2020. Hafiz/Gloria seharusnya dapat menjadi mengamankan muka Merah Putih.
Hafiz/Gloria menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke final pada Minggu (26/1/2020). Mereka menghadapi pasangan Inggris Marcus Ellis/Lauren Smith di Indoor Stadium Huamark, Thailand.

Sempat menculik poin di gim kedua tetapi pasangan senior tersebut akhirnya takluk dalam permainan rubber game dengan skor 16-21, 21-13, dan 16-21. Indonesia mesti puas tanpa gelar di turnamen BWF Worlsmd Tour Super 300 tersebut.

Kepala bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, tak menepis rasa kekecewaannya. Dia bilang ada hal nonteknis yang berulang pada pasangan ranking delapan dunia ini.

“Sebenarnya kami bercita-cita mendapat satu gelar dari sektor apapun dan Hafiz/Gloria sebetulnya kami harapkan dapat (meraih gelar itu). Hanya sayang sekali di gim-gim terakhir masih belum dapat keluar dari tekanan, belum lepas secara mainnya, masih suka eror,” kata Susy untuk pewarta di Pelatnas PBSI, Cipayung, Senin (27/1/2020).

Padahal, kata peraih medali emas Olimpiade 1992 ini, secara teknis Hafiz/Gloria berimbang dengan pasangan Inggris itu tapi inkonsisten dalam permainan.

“Itu yang saya lihat mereka tetap kecolongan. Di samping itu, saya pun melihat mix double terutama putra mesti sungguh-sungguh kuat ya. Hafiz barangkali secara postur tidak cukup tinggi namun power-nya mesti ditambah. Jadi mesti terdapat pembenahan-pembenahan lagi,” ujar Susy.

“Sementara guna Gloria, dalam posisi di depan dia seharusnya lebih agresif lagi. Tidak melulu memancing saja, tapi mengurangi lawan sampai-sampai lebih menyerahkan bola yang enak untuk mitra kita. Mungkin bola-bolanya mesti lebih matang lagi penempatannya,” dia menjelaskan.

Di sisi lain, Susy pun menilai andai pemain-pemain yang adalahkombinasi pemain utama dan pelapis ini pun belum sepenuhnya maksimal.

“Secara borongan kami kirim pemain pelapis seluruh di sana tapi bila dibilang telah maksimal ya belum. Walau mereka pun bukan kalah dari pemain-pemain yang di bawah mereka. Tapi untuk empiris dan jam terbang untuk atlet pelapis pasti bagus. Paling tidak secara borongan kami dapat melihat ruang belajar mereka terdapat di mana dan menjadi target guna ke depan laksana apa.
Jadi nonteknis yang mesti dibetulkan lagi,” dia menjelaskan.